Ayu Anjani Sang Pastry Chef Muda Berbakat

mediadetail40

Wanita dengan rambut berkuncir kuda ini berbincang santai dengan para awak media. Masih belia, namun seragam putih yang ia kenakan tak dapat menyembunyikan kualitasnya. Di dada kirinya terdapat bordir pita biru bertuliskan ‘Le Cordon Bleu Paris 1895′.

Ayu Anjani Rahardjo masih berusia 22 tahun. Namun, ia kini dipercaya sebagai konsultan dan supervisor pastry restoran Gourmet World di Kemang, Jakarta Selatan. Iapun mengelola bisnis pastry rumahan. Belum lagi pengalamannya bekerja sebagai pastry chef di Australia.

Wanita yang akrab disapa Ann ini mengaku keluarga besarnya tak ada yang menjadi chef. Sebagian besar berprofesi sebagai musisi, termasuk kakak kandungnya, Rayi RAN. Lalu, dari mana ia mendapat keterampilan memasak? Ditemui Detikfood di acara ‘Life is Short, Eat Dessert First’, Rabu (09/01/13), Ann menceritakan perjalanannya di dunia kuliner.

Ann mengaku waktu kecil ia bandel. Meski sang ibu melarangnya bermain-main dengan api, Ann tetap melakukannya. “Akhirnya ibu saya kesal, tangan saya benar-benar disentuhkan ke api agar saya tahu rasanya terbakar. Saya menangis keras. Sejak saat itu, saya kapok,” tuturnya.

Namun, tampaknya penyesalannya tak berlangsung lama. Karena kedua orang tua Ann sibuk bekerja, mau tak mau ia dituntut bisa memasak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. “Saya tak suka lapar, makanya saya memasak,” ujarnya.

Insiden api tersebut juga tak membuatnya trauma. Setelah lulus SMA, Ann merantau ke Australia demi mengejar pendidikan di bidang kuliner, bidang yang akrab dengan api. Namun, karena saat itu umurnya masih 17 tahun, ia harus menunggu setahun sampai bisa mendaftar di Le Cordon Bleu Sydney.

Untuk mengisi waktu, Annpun magang di restoran setempat. Meski saat magang ia menangani cuisine (masakan gurih), ketika mendaftar di Le Cordon Bleu ia memilih bidang pastry. “Menurut saya pastry itu lebih membutuhkan ketrampilan daripada memasak. Kalau memasak biasa kita cuma butuh feeling,” kata Ann.

Setelah sembilan bulan belajar di sekolah kuliner bergengsi ini, Ann berhasil mendapat gelar diploma di bidang pastry. Iapun sempat bekerja di Firefly Tapas & Wine Bar di Sydney sebelum kembali ke tanah air.

Di Jakarta, Ann mengelola usaha rumahan bernama ‘Ann’s Bakehouse & Creamery’. Spesialisasinya adalah homemade ice cream. Annpun bercita-cita mereknya bisa masuk pasar ritel.

“Kita sekarang masih terpaku dengan merek es krim ternama dari luar negeri. Jadi kalau memang bisa, saya mau masukkan ke ritel sebagai brand es krim lokal,” ungkapnya. Dari usaha rumahannya tersebutlah, Ann mendapat tawaran bergabung sebagai konsultan pastry di Gourmet World.

Ciri khas dessert buatan Ann adalah simpel, tanpa hiasan berlebihan, namun rapi. Pasalnya, ia lebih mementingkan rasa daripada tampilan. “Orang-orang lebih suka yang tampilannya heboh. Padahal, pada akhirnya, yang bisa dimakan dan benar-benar ada rasanya cuma yang di dalam,” kata presenter acara memasak di televisi swasta ini.

Ann menyayangkan kurang terkenalnya makanan Indonesia di kancah internasional. “Karena kita kurang promosi. Kenapa Thailand bisa maju banget? Vietnam saja, negara sekecil itu, bisa maju makanannya,” ujarnya.

Ia mengambil contoh di Australia, tempatnya menimba ilmu dulu. Menurutnya, 80% makanan di sana didominasi Thailand dan Vietnam. Orang bulepun mengenal nasi gara-gara populernya hidangan dari kedua negara tersebut.

Namun, menurut Ann, Indonesia juga punya pastry yang dapat dibanggakan. “Lapis legit, karena cara bikinnya susah, harganya mahal, dan merupakan kue andalan Indonesia,” tegasnya

Sebenarnya, lanjut Ann, kue-kue berbungkus daun pisang juga unik. Namun, untuk yang satu ini, hidangannya mirip dengan punya Malaysia. “Apalagi Malaysia hebat sekali promosinya. Kayaknya kalau lapis legit yang enak Malaysia nggak punya,” pungkasnya.

Sumber: http://food.detik.com/read/2013/01/11/094412/2139255/297/ayu-anjani-sang-pastry-chef-muda-berbakat?utm-source=topshare

Facebook0Twitter0Pinterest0

Archives